Agama

Maulidan, Sholawatan, Tahlilan, Adalah Tradisi Islam di Nusantara

Amalan – amalan yang menjadi rutinan di kalangan masyarakat Negara Indonesia semisal Yasinan, Waqi’ahan termasuk pula sedekah bumi. Di tengah kontroversi istilah Agama Islam Nusantara, tradisi – tradisi Agama Islam di Nusantara memang sudah menjadi sebuah kultur yang teramat lekat di tengah – tengah masyarakat.

Maulidan, Sholawatan, Tahlilan, Adalah Tradisi Islam di Nusantara

Pada muktamar ke – 33 NU yang diselenggarakan di Jombang pada tanggal 3-4 Agustus 2015. Tema besar yang dibahas dalam muktamar tersebut ialah Agama Islam Nusantara. Pasca Gelaran Muktamar Jombang, Tema “Agama Islam Nusantara” menjadi perbincangan di kalangan luas, baik ulama, pemerintahan maupun masyarakat awam yang lalu terbagi menjadi beberapa pendapat. Sebagian kalangan menuduh sesat faham Agama Islam Nusantara sementara kalangan lainnya mencoba menengahinya bersama memberi gambaran dan konsep yang jelas mengenai Agama Islam Nusantara.

Tentu tidak cukup ruang apabila pembahasan Agama Islam nusantara dibahas dalam artikel semisal ini. Perlu kedalaman ilmu dan kejernihan pikiran untuk menelaah konteks Agama Islam Nusantara yang dijadikan pedoman oleh kalangan Nahdliyin

Agama Islam Nusantara dan Demografi

Ulumul Qur’an mengenal istilah Qiro’ah Sab’ah. Istilah tersebut mengacu pada bacaan yang tujuh yang ternyata disesuaikan bersama dialek bahasa daerah setempat. al-Zarkasyi di dalam kitab kitab al-Hidayah mengatakan bahwa Qiro’at merupakan perbedaan lafal-lafal yang ada di dalam Alquran, baik itu menyangkut huruf-hurufnya maupun tentang cara pengucapan huruf-huruf Al Qur’an.

Sebab terjadinya perbedaan qiro’at tersebut disebabkan salah satunya oleh lajnah (dialek), sudah menjadi maklum bahwa dialek ataupun logat bahasa di masing – masing daerah berbeda satu sama lain. Di masa Khalifah Utsman, Mushaf Al – Qur’an dikirim ke berbagai pelosok negeri, perbedaan dialek menyebabkan cara baca al qur’an pun berbeda. Maka, pada abad ke III Hijiriah dipilihlah beberapa qiroat yang mu’tabar dan mutawatir ke Nabi tanpa meninggalkan dialek daerah tersebut.

Qiro’at sab’ah tersebut merupakan contoh kasus bagaimana Agama Islam lalu masuk pada budaya – budaya di daerah – daerah tertentu.

Contoh lainnya ialah praktek zakat Fitrah. Sebagaimana diketahui, jenis barang yang dizakatkan ialah qutul balad ataupun makanan pokok suatu negeri. Di zaman nabi, Gandum dan kurma merupakan makanan pokok negeri tersebut, sementara di pulau jawa, beras merupakan makanan pokok yang lalu dijadikan sebagai barang yang dijadikan zakat fitrah.

Hal lain semisal Khutbah sholat Jum’at menggunakan bahasa jawa ataupun bahasa Negara Indonesia. Pada zaman nabi dan di arab tentu saja menggunakan bahasa arab. Di Negara Indonesia menggunakan bahasa daerah masing – masing bersama tanpa meninggalkan syarat dan rukun khotbah yang menggunakan bahasa arab.

Agama Islam Nusantara sejatinya merupakan praktek Agama Islam di Nusantara tanpa meninggalkan dalil – dalil qath’i.
Agama Islam nusantara tidak berarti merubah bahasa arab menjadi bahasa jawa pada saat sholat. Agama Islam nusantara menggunakan sarung ketika sholat, di arab menggunakan gamis, Agama Islam Nusantara hanyalah particular aplication dari Agama Islam yang ditolerir prakteknya sesuai daerah masing – masing.

Tradisi Agama Islam Nusantara Dan Telaah Qiroaat Sab’ah
Tradisi – tradisi ataupunpun amalan – amalan semisal Maulidan, Sholawatan, Tahlilan ialah Tradisi Agama Islam Di Nusantara. Tahlilan sudah umum dilaksanakan ketika selamatan, mendoakan orang meninggal ataupun tasyakuran.

Beberapa kalangan menuduh bahwa Agama Islam Nusantara berusaha membawa Agama Islam ke arah budaya agama lain semisal Hindu. Sementara Maulidan dituduh menyerupai budaya kaum Nasrani yang mengagungkan hari lahir Yesus.

Pada praktiknya, baik maulidan, sholawatan dan tahlilan tidak satupun yang melanggar kaidah agama Agama Islam. Soal tasyabuh kepada umat lain, hal ini sebenarnya sudah terbantahkan oleh praktik puasa asyura yang sejatinya merupakan kebiasaan kaum yahudi.

bersama begitu, pada dasarnya, Agama Islam Nusantara tidak berusaha membawa Agama Islam kepada budaya namun membawa budaya apapun kepada Agama Islam.

Tradisi semisal inilah yang merupakan jalan masuknya Agama Islam di Negara Indonesia. Bagaimana sunan kalijaga bersama media wayang mendakwahkan Agama Islam merupakan salah satu contoh dakwah Agama Islam Nusantara. Tahlilan, Sholawatan ataupun Maulidan pun merupakan salah satu bentuk metode dakwah sekaligus ibadah yang dipraktikan di Negara Indonesia.

Di Yaman, kita mengenal istilah Ratibul Hadad ataupun ratibul athas yang telah masyhur sebagai amalan ibadah. Tahlilan yang merupakan amalan di Negara Indonesia sesungguhnya tidaklah banyak berbeda bersama bacaan ratibul hadad maupun ratibul athas.

Maulidan, Sholawatan, Tahlilan, Adalah Tradisi Islam di Nusantara

Negara Indonesia bersama banyakanya ragam budaya mendorong ulama agar lebih bijak dalam menyebarkan agama Agama Islam. Sunan Qudus misalnya, demi menghormati kaum hindu, beliau menganjurkan untuk tidak menyembelih sapi pada saat qurban, namun diganti bersama kerbau.

Penggantian kerbau tersebut tidak menyalahi aturan agama karena memang qurban boleh menggunakan kerbau, namun, alasan mengapa tidak menyembelih sapi ialah persatuan Negara Indonesia yang terdiri dari berbagai ras, agama dan suku bangsa.

Hal tersebut tentu patut kita contoh sebagai salah satu cara agar bangsa Negara Indonesia tidak terpecah karena perbedaan budaya. Terlebih bersama banyaknya rongrongan disintegrasi dari dalam yang ingin memecah belah bangsa atas nama agama. Agama Islam Nusantara sejatinya memposisikan Agama Islam di atas segalanya agar bisa masuk kedalam budaya manapun.

Hal tersebut bertujuan agar tidak terjadi perpecahan antar suku bangsa di negara Indoensia yang dikenal majemuk dan beraneka ragam. Agama Islam Nusantara berusaha mengejawantahkan prinsip Bhineka Tunggal Ika yang menjadi salah satu pedoman bangsa.

Selain itu, Agama Islam nusantara juga menekankan pada satu aturan ” Al Muhafadzatu Ala Qodimisholih wal Akhdu Bil jadidil Ashlah”, Menjaga tradisi lama yang baik dan menyerap pembaharuan yang baik pula. bersama begitu, Agama Islam akan selalu berada di depan.

Hal inilah yang lalu menjadi salah satu upaya dari sahabat – sahabat muda bersama mendirikan IMNU ataupun Internet Marketers NU. Namun, harus di catat, bahwa sehebat apapun IT, tradisi Agama Islam yang telah dicanangkan oleh ulama terdahulu, wajib di jaga.

Demikianlah artikel tentang Maulidan, Sholawatan, Tahlilan ialah Tradisi Agama Islam Di Nusantara yang semoga bermanfaat serta meluruskan pandangan tentang Agama Islam Nusantara.

Related posts